Minggu, 07 Mei 2017

PUPUK DAN PESTISIDA ORGANIK UNTUK KEAMANAN KONSUMSI CABAI RAWIT

Cabai rawit (Capsicum frutescens) sering disebut dengan cabai kecil dengan ukuran panjang antara 2 – 4 cm, tetapi mempunyai rasa pedas dengan warna bervariasi, yaitu hijau, merah, kuning dan oranye. Cabai rawit ini salah satu komoditi yang penting karena sehari-hari digunakan oleh masyarakat sebagai sambal, bumbu masak, lalapan (teman makan tahu goreng, bakwan, bakmi, dan lain-lain). Selain itu juga digunakan sebagai bahan industri sambal dan cabai bubuk.
Cabai rawit dikonsumsi buahnya, maka selain upaya menjaga ketersediaan produksi juga perlu diperhatikan peningkatan mutu produk untuk keamanan dikonsumsi, antara lain budidayanya menggunakan pupuk dan pestisida organik.




Pupuk Organik
Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian atau seluruhnya berasal dari tanaman dan atau hewan yang telah melalui proses rekayasa yang manfaatnya untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Secara umum pupuk organik dibedakan berdasarkan bentuk dan bahan pembuatannya. Dilihat dari segi bentuk, terdiri dari pupuk organik cair dan padat. Sedangkan dilihat dari bahan pembuatannya terdiri dari pupuk hijau, pupuk kandang dan pupuk kompos.
a. Pupuk hijau, merupakan pupuk yang berasal dari pelapukan tanaman, baik tanaman sisa panen maupun tanaman yang sengaja ditanam untuk diambil hijauannya. Tanaman yang biasa digunakan untuk pupuk hijau diantaranya turi, lamtoro, orok-orok dan tanaman kacang-kacangan, sengon untuk di lahan kering. Terutama tanaman kacang-kacangan dipilih karena memiliki kandungan hara, khususnya nitrogen yang tinggi dan cepat terurai dalam tanah. Penggunaan pupuk hijau bisa langsung dibenamkan kedalam tanah atau melalui proses pengomposan. Petani biasanya menanam tanaman yang biasa untuk pupuk hijau sebagai pagar kebun, di saat-saat tertentu tanaman pagar tersebut dipangkas untuk diambil hijauannya yang bisa langsung ditaruh pada tanah sebagai pupuk.
b. Pupuk kandang, yaitu pupuk yang berasal dari kotoran hewan seperti unggas, sapi, kerbau dan kambing. Kotoran hewan yang kencing, seperti sapi, kerbau dan kambing, cocok digunakan untuk tanaman yang diambil buahnya, sehingga cocok juga untuk tanaman cabai. Kotoran hewan yang kencing ini waktu penguraiannya relatif lebih lama, kandungan nitrogen lebih rendah, namun kaya akan fosfor dan kalium. Kotoran hewan sebelum digunakan sebagai pupuk agar didiamkan sampai keadaannya kering dan matang. Pupuk kandang proses pembuatannya mudah dan tidak memerlukan proses pembuatan yang panjang seperti kompos. Pupuk kandang banyak dipakai sebagai pupuk dasar yang dicampurkan dengan tanam sebelum tanam.
c. Pupuk kompos, adalah pupuk yang dihasilkan dari pelapukan bahan organik melalui proses biologis dengan bantuan organisme pengurai bisa berupa mikroorganisme maupun makroorganisme. Mikroorganisme dapat berupa bakteri atau jamur, sedangkan makroorganisme seperti cacing tanah. Pupuk kompos dapat dibuat dengan proses pembuatannya aerob (melibatkan udara) atau proses anaerob (tidak melibatkan udara).
Teknologi pengomposan sudah berkembang pesat, sehingga pupuk kompos banyak ragamnya, misalnya pupuk bokashi, vermikompos, pupuk organik cair dan pupuk organik tablet. Pupuk kompos bisa dibuat dengan mudah, bahkan beberapa tipe pupuk kompos bisa dibuat sendiri dari limbah rumah tangga, seperti pupuk bokashi.
Pestisida organik
Pestisida organik adalah obat-obatan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang dibuat dari bahan-bahan organik atau alami, seperti tumbuhan-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Oleh karena dibuat dari bahan-bahan organik yang terdapat di alam bebas, maka residunya mudah terurai dan mudah hilang sehingga lebih ramah lingkungan, tidak mencemarkan lingkungan, dan relatif aman bagi kesehatan manusia dan ternak. Pestisida organik digunakan jika sudah terdapat hama atau ada tanaman yang rusak, jika hanya terdapat sedikit kerusakan tanaman belum perlu digunakan.
Contoh pestisida organik untuk membasmi hama yang sering menyerah tanaman cabai, antara lain: lalat buah, trips, tungau, kutu kebul, dan penggorok daun jenis ulat. Bahan- bahannya: 1 ons bawang putih, 1 ons kunyit, 3 ons lengkuas, 3 batang sereh, dan merica secukupnya. Cara membuat: semua bahan ditumbuk atau dilumatkan sampai hancur, tambahkan air 1 liter dan didihkan sebentar. Setelah selesai pindahkan ke dalam wadah dan tambahkan sabun cuci yang biasa kita gunakan untuk mencuci piring secukupnya, aduk sampai rata, kemudian dinginkan. Lalu disaring dengan kain halus, agar tidak menyumbat semprotan, jadilah pestisida organik buatan sendiri yang dapat digunakan. Cara menggunakan: setiap 100 - 200 cc pestisida organik buatan itu ditambahkan air 3 - 4 liter air, lalu semprotkan pada tanaman cabai yang terkena hama.
Contoh pestisida organik untuk pengendalian penyakit antraknosa pada tanaman cabai. Bahan-bahannya: daun galinggang gajah 2,5 ons; daun tembakau 2,5 ons; daun thitonia 2,5 ons; daun lagundi 2,5 ons; garam 1 ons dan gambir 3 buah. Cara membuat: semua bahan-bahan berupa daun ditumbuk sampai halus, lalu masukan kedalam ember yang berisi 1 liter air bersih dan tambahkan garam, dibiarkan selama satu malam. Setelah itu saring larutan tersebut dan peras airnya sampai kering. Cairkan 3 buah gambir dengan satu gelas air panas dan campurkan kedalam larutan, aduk hingga merata, jadilah pestisida organik dan siap digunakan untuk mengendalikan antraknosa yang biasa menyerang tanaman cabai. Cara menggunakannya: masukkan larutan ke dalam tangki semprot berukuran 15 liter, tambahkan air bersih sampai penuh (perkirakan jangan sampai tumpah) dan aduk-aduk sampai rata. Pestisida organik ini sebaiknya disemprotkan sejak tanaman cabai mulai berbuah, seminggu sekali. Kemudian amati tanaman, apabila ada buah cabai yang terserang antraknosa segera dipetik dan dibuang keluar lahan. Waktu penyemprotan dilakukan pagi atau sore hari. Air semprotan harus berbentuk kabut biar merata dan teknik penyemprotan dilakukan dari bawah ke atas. Pada musim hujan dapat ditambahkan garam sebanyak 2,5 ons lagi pada larutan pestisida organik tersebut. Berdasarkan pengalaman, pestisida organik ini bisa mengendalikan serangan antraknosa sampai 80 %. Ramuan tidak tahan lama dan masih bisa dipakai selagi aromanya masih khas atau belum berubah. Apabila aromanya sudah berubah maka kemampuannya akan menurun, maka sebaiknya larutan dibuat setiap kali akan memakai. (Penulis: Susilo Astuti Handayani – Penyuluh Pertanian Pusluhtan)
sumber : cyber extension Kementrian Pertanian

Pencegahan Penyakit Keriting pada Cabe

PENDAHULUAN
Cabai merupakan komoditas penting bagi masyarakat Indonesia. Ketersediaan cabai di Indonesia menjadi isu menarik, sehingga banyak media massa kerap membuat liputan dan pemberitaan seputar ketersediaan dan harga cabai. Awal tahun 2017 yang lalu harga cabai dibeberapa wilayah di Indonesia seperti Provinsi Kep. Bangka Belitung mengalami peningkatan yang signifikan. Harga cabai di tingkat pedagang berkisar antara Rp. 100.000,- – 150.000,- per kilogramnya.

Fluktuasi harga cabai akhir-akhir ini disebabkan oleh banyak faktor, antara lain faktor cuaca yang tidak menentu, hama dan penyakit yag sulit untuk dikendalikan sehingga berkurangnya ketersediaan cabai di tingkat pedagang dan akhirnya harga cabaipun menjadi mahal. Jika di analisis lebih lanjut maka sebenarnya permasalahan tersebut sudah dimulai ketika budidaya dilakukan di lahan petani, mulai dari penyemaian hingga pane. Di tingkat petani, organisme pengganggu tanaman (OPT) menjadi penyebab utama berkurangnya produksi cabai. Salah satu hama penting yang selalu dihadapi oleh petani cabai adalah keriting. Pencegahan dini kutu kebul secara komprehensif perlu dilakukan untuk menjamin keberhasilan budidaya cabai.




Organisme pengganggu tanaman (OPT) penting yang menyebabkan daun tanaman cabai menjadi keriting adalah kutu kebul, thrips, kutu daun, ulat grayak, virus kuning (virus gemini) dan lain-lain.

PENCEGAHAN
Beberapa cara pencegahan keriting pada tanaman cabai yang bisa dilakukan petani adalah sebagai berikut:

1. Memperhatikan Kondisi Cuaca

Keberhasilan bercocok tanam cabai sangat ditentukan oleh faktor cuaca. Tantangan hama dan penyakit yang dihadapi oleh petani saat musim hujan dan musim kering sedikit berbeda. Eskalasi serangan hama lebih sering muncul pada musim kemarau termasuk kutu-kutuan yang merupakan salah satu penyebab keriting pada tanaman cabai. Sedangkan serangan penyakit cenderung meningkat pada musim penghujan. Strategi yang diterapkan oleh petani bisa berdasarkan musim tersebut. Saat ini untuk mendapatkan informasi iklim dan cuaca relatif lebih mudah. BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi da Geofisika) setiap bulan menerbitkan buletin yag berisi informasi curah hujan, sifat hujan, prakiraan awal musim kemarau/hujan, curah hujan dan informasi lainnya yang sangat penting di ketahui oleh petani. Melalui Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) informasi ini akan sangat membatu petani.

2. Penggunaan Border 4-6 Baris Jagung
Penggunaan tanaman jagung sebagai border dapat dilakukan. Fungsi tanaman jagung adalah sebagai perangkap bagi hama, khususnya penyebab keriting pada tanaman cabai. Perlindungan tanaman cabai dengan membuat border di sekeliling tanaman cabai dapat mengurangi eskalasi serangan hama.

3. Penggunaan Mulsa Plastik Perak
Mulsa plastik perak dapat mengurangi serangan hama dari jenis kutu-kutuan. Panas dari cahaya matahari yang dipantulkan kembali oleh mulsa plastik sangat tidak disukai oleh hama kutu.


4. Pemanfaatan Musuh Alami

Go-green merupakan sistem usahatani yang ramah lingkungan. Salah satu upaya untuk mengurangi serangan hama dan penyakit adalah dengan pemanfaatan musuh alami. Sebagai contoh pemanfaatan semut merah untuk mengurangi kutu-kutuan. Cara ini bisa dilakukan untuk menekan populasi hama tertentu tetapi tidak bisa menanggulangi serangan hama secara komprehensif.

5. Penggunaan Perangkap Kuning
Perangkap kuning merupakan salah satu cara yang cukup efektif untuk mengendalikan hama kutu-kutuan dan ngengat di tanaman cabai. Cara pembuatan perangkap ini cukup mudah yaitu dengan mengoleskan lem/perekat pada permukaan kertas/plastik yag berwarna kuning. Hama tertentu sangat menyukai warna kuning dan hama tersebut hinggap maka ia akan melekat di peragkap tersebut.

6. Penggunaan Pestisida Nabati

Pestisida nabati sudah banyak dikenal oleh petani. Salah satu contoh adalah daun mimba yang dapat digunakan sebagai pestisida nabati. Kelebihan penggunaan pestisida nabati adalah aman, tidak menimbulkan efek samping dan ramah lingkungan.

7. Penggunaan Pestisida Kimia

Penggunaan pestisida kimia sesuai kebutuhan dengan dosis yang sesuai petunjuk. Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya.

Ditulis Oleh : Feriadi, S.P. (BPTP Kep. Bangka Belitung)
sumber : cyber extension Kementrian Pertanian

Mint (Baccharis indica L.)



Klasifikasi :
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Bangsa : Labiatae
Suku : Lamiaceae
Warga : Mentha
Jenis : Mentha spp.
Sinonim : Baccharis indica L.
Nama umum : Bijanggut / Janggot
Nama daerah : -
Nama Inggris : Peppermint, spearmint, mint, marah mint
Ciri – ciri :
Batang:  batang  tegak,  tinggi  mencapai  0,30-0,50  m,  bercabang kecil yang tumbuh menjalar, berbuku-buku, tiap ruas keluar tunas dan  akar,  batang  tajam,  berbetuk  segi  empat.  Daun:  berdaun bundar telur sampai jorong langset, daunnya bersilang, panjang mencapai  3,5-7  cm,  berujung  runcing,  bergerigi  dangkal,  tulang daun bagian bawah berambut pendek, permukaan daun bagian atas berambut jarang, panjang tangkai daun mencapai 1,5 cm. Bunga: Tanaman ini berkepala bunga bundar, berbentuk melingkar, bunganya berbibir dua dengan empat benang sari, dan berbuah terbagi 4. Kelopak bunga bagian luar padat dengat rambut-rambut pendek, bagian dalam tidak berambut, panjang 2 mm, panjang tabung 1,5 cm, bergigi tajam. Mahkota bunga berwarna putih keunguan panjang 4-5 mm, berbentuk tabung dengan panjang 2-2,5 mm, di bagia dalam berpusar dengan rambut-rambut panjang. Benang sari berbentuk sekrup berwarna coklat dengan panjang mencapai 0,75mm. Akar serabut.

Mint
 Penyebaran :
Tumbuhan  ini  berasal  dari  India  dan  Asia  Tenggara  (termasuk
Indonesia). Sedangkan jenis hibrida diimpor dari Eropa.
Habitat :
Di Indonesia tanaman ini tumbuh liar dan berada di tempat lembab, ditemukan pada ketinggian 150 -1200 m dpl.
Kandungan kimia :
Kandungan  kimia  yang  terkandung  dalam  tumbuhan  ini  adalah spearmint, flavonoid, tannin, menthol, menthone dan carvone.
Bagian tanaman yang digunakan : daun
Cara kerja :
Tumbuhan ini bersifat sebagai bakterisida

Piretrum (Pyrethrum cinerariaefolium)

Klasifikasi :
Divisi   : Spermatophyta
Sub divisi  : Angiospermae
Kelas : Dicotyledanae
Bangsa  :  Asterales
Suku : Compositae
Marga : Pyterhrum
Jenis :  Pyrethrum cinerariaefolium Trev.
Nama umum : Piretrum
Nama daerah : Kepundung (Jawa)
Nama Inggris : Pyrethrum
Ciri – ciri :
Habitus semak, tinggi 20 – 70 cm. Batang berkayu, bulat, permukaan  kasar,  bekas  dudukan  daun  nampak  jelas,  merah muda. Daun majemuk, bercangap, panjang 6 – 15 cm, pertulangan menyirip, hijau. Bunga majemuk, bentuk bongkol, tangkai ±15 cm, beralur, berambut halus, daun pelindung berlekatan satu sama lain, mahkota melingkar, putih. Buah biji kotak, bentuk jarum, panjang 0.3 – 0.4 mm, kuning, kecil kuning. Akar tunggang, coklat muda.

pirettum
Penyebaran :
Piretrum  merupakan  tanaman  introduksi  dengan  daearah  asal bagian Timur Pesisir Laut Adristik
Habitat :
Tanaman/tumbuhan ini tumbuh di daerah beriklim dingin atau pegunungan  yaitu  di  ketinggian  600-3000  m  dpl  dengan  curah hujan sekitar 1200 mm, dengan kemarau yang cukup singkat 2-3 bulan.
Kandungan bahan kimia :
Bahan  kimia  yang  terkandung  dalam  piretrum  adalah  piretrin, Cinerin dan Jasmolin
Bagian tanaman yang digunakan  adalah bunga, tangkai bunga, daun dan akar.
Cara Kerja :
1.    Racun  yang  mempengaruhi  system  syaraf serangga (racun syaraf),   masuk   ke   dalam   tubuh   serangga   melalui spirakel. Piretrin bersifat reversibel yaitu apabila serangga yang teracuni tidak mati karena dosis  racunnya kurang, maka serangga tersebut dapat pulih kembali
2.    Menghambat perkembangan serangga dan penetasan telur
3.    Bersifat penolak (repellent)
4.    Berfungsi sebagai insektisida, fungisida dan nematisida
Pengaruh terhadap manusia : Piretrum dapat menyebabkan iritasi  pada kulit yang sensitif.

Kamis, 04 Mei 2017

Kenikir (Tagetes erecta)



Klasifikasi :
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae                   
Bangsa : Asteracea
Suku : Compositae
Marga : Tagetes
Jenis : Tagetes erecta
Nama Indonesia : Kenikir
Nama Inggris : African Marigold
Nama Daerah : Kenikir  (Jawa  Tengah),    saes, tahi kotok (Sunda)
Diskripsi tumbuhan:
Tumbuhan   berbentuk   herba   dengan   tinggi   0,5-1,5   m   dan merupakan tanaman semusim. Batangnya bulat, tegak, beralur, bercabang, putih kehijauan. Tumbuhan berdaun majemuk, berbentuk lanset, ujung runcing, tepi bergengi, panjang 3-15 cm, hijau. Bunganya majemuk, berbentuk cawan, dengan tangkai panjang,   daun   pembalut   berbentuk   lonceng,   kepala   putik bercabang dua berwarna kuning. Sedangkan benang sari berwarna kuning atau ungu, berbentuk lonceng dengan panjang 1-1,5 cm. Bijinya berbentuk jarum dan berwarna hitam. Tumbuhan ini mempunyai akar tunggang dan berwarna putih kekuningan.

Kenikir
 Distribusi/penyebaran :
Pohon kenikir merupakan tumbuhan tropika yang berasal dari Amerika Latin, tetapi tumbuh liar dan mudah didapati di Florida, Amerika Serikat, serta di Indonesia dan negara-negara ASEAN lainnya
Habitat :
Kenikir tumbuh baik di dataran rendah sampai pegunungan ± 700
m dpl., dengan kondisi tanah yang subur, liat, dan berdrainase baik, terutama di tempat terbuka yang mendapatkan sinar matahari penuh.
Kandungan kimia :
Tumbuhan ini mengandung quercetagetin, quercetagitrin, dan tagetiin yang termasuk dalam kelompok senyawa flavonoid, serta senyawa tagetol, linolaol, ocimene, limonen, dan piretrum yang termasuk dalam kelompok monoterpenoid. Tumbuhan ini juga mengandung senyawa alkaloid, serta senyawa thertienil yang termasuk dalam kelompok senyawa poliasetilen
Bagian tanaman yang digunakan adalah daun, bunga dan akar
Cara kerja :
1.   Menghambat kerja sistem saraf
2.   Menghambat aktivitas makan (antifeedant)
3.   Penolak (repellent)
4.   Bersifat sebagai insektisida, fungisida dan nematisida.

Selasa, 02 Mei 2017

Jahe (Zingiber officinale)



Klasifikasi
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Zingiberales
Suku : Zingiberaceae
Warga : Zingiber
Jenis : Zingiber officinale
Nama umum: Jahe
Nama daerah:
Halia (Aceh), beeuing (Gayo), bahing (Batak Karo), sipodeh (Minangkabau), jahi (Lampung), jahe (Sunda), jae (Jawa dan Bali), jhai (Madura), melito (Gorontalo), geraka (Ternate).
Nama Inggris: Ginger
Ciri – ciri :
Terna berbatang semu, tinggi 30 cm sampai 1 m, rimpang bila dipotong berwarna kuning atau jingga. Daun sempit, panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm ; tangkai daun berbulu, panjang 2 – 4 mm; bentuk lidah daun memanjang, panjang 7,5 – 10 mm, dan tidak berbulu; seludang agak berbulu. Perbungaan berupa malai tersembul di permukaan tanah, berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, 2,75 – 3 kali lebarnya, sangat tajam ; panjang malai 3,5 – 5 cm, lebar 1,5 – 1,75 cm ; gagang bunga hampir tidak berbulu, panjang 25 cm, rahis berbulu jarang ; sisik pada gagang terdapat 5 – 7 buah, berbentuk lanset, letaknya berdekatan atau rapat, hampir tidak berbulu, panjang sisik 3 – 5 cm; daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik, bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, panjang 2,5 cm, lebar 1 – 1,75 cm ; mahkota  bunga  berbentuk  tabung  2    2,5  cm,  helainya  agak sempit, berbentuk tajam, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm, lebar 3 – 3,5 mm, bibir berwarna ungu, gelap, berbintik- bintik berwarna putih kekuningan, panjang 12 – 15 mm ; kepala sari berwarna ungu, panjang 9 mm ; tangkai putik 2.

Jahe
 Penyebaran:
Tumbuhan ini berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India dan China.
Habitat :
Jahe tumbuh baik di daerah tropis dan subtropis dengan ketinggian
0 - 2.000 m dpl. Di Indonesia pada umumnya ditanam pada ketinggian 200 - 600 m dpl
Kandungan kimia :
Minyak asiri dalam jahe terdiri atas n-nonylaldehide, dcamphene, d- รข-phellandrene, methyl heptenone, cineol, d-borneol, geraniol, linalool, acetates, caprylate, citral, chavicol dan zingiberene. Selain itu juga mengandung resin dan serat.
Bagian tanaman yang digunakan adalah rimpang
Cara kerja:
1.   Bersifat sebagai insektisida
2.   Penolak (repellent)